SELASA, 21 Agustus 1945, pukul 07.00. Semua anggota kesatuan Polisi Istimewa, sekitar 250 orang, berkumpul untuk mengikuti apel di halaman depan markas Polisi Istimewa, Jalan Coen Boelevard, Surabaya –kini Jalan Polisi Istimewa. Setelah pengibaran bendera Merah-Putih, Inspektur I Moehammad Jasin membacakan proklamasi:

“Oentoek bersatoe dengan rakjat dalam perdjoeangan mempertahankan Proklamasi 17 Agustus 1945, dengan ini menjatakan Polisi sebagai Polisi Republik Indonesia.”

Usai membacakan proklamasi, Jasin meminta semua anggota polisi melakukan pawai siaga untuk menunjukkan kekuatan dan kesiapan tempur, menghadapi reaksi pihak Jepang. Menggunakan kendaraan lapis baja dan truk yang telah dipasangi bendera Merah-Putih, bergerak menuju Jalan Tunjungan, Surabaya.

Proklamasi itu menandai berdirinya Polisi Republik Indonesia (PRI), menggantikan Polisi Istimewa (Tokubetsu Keisatsu Tai) di mana Jasin jadi komandannya di Surabaya. Proklamasi itu juga merupakan tekad korps kepolisian untuk menjadi garda depan menghadapi Jepang yang masih bersenjata lengkap, meski sudah menyerah, dan mempertahankan kemerdekaan. PRI merupakan satu-satunya pasukan terlatih yang dipersenjatai dan berbobot tempur tinggi yang belum dilucuti Jepang.

Proklamasi itu diketik kemudian disebar dan ditempel di tepi jalan besar. Proklamasi itu mendorong bekas pasukan bersenjata Heiho dan Pembela Tanah Air (PETA) yang telah dibubarkan untuk mengambil-alih atau melucuti senjata Jepang.

PRI terlibat dalam upaya penyerangan dan perampasan senjata-senjata Jepang. Dalam penyerbuan ke gedung Kempetai, yang merupakan benteng pertahanan Jepang, Jasin berunding dengan komandan Kempetai. Bila Kempetai menyerah dia akan menjamin keselamatan mereka. Para pejuang pun mengambil senjata-senjata Jepang yang tersimpan di gudang-gudang persenjataan mereka. PRI juga menyerbu persenjataan Angkatan Laut Jepang di Embong Wungu, Gubeng, yang berakhir dengan penyerahan persenjataan yang ditandatangani Jasin, sebagai wakil dari Indonesia. Penyerahan senjata itu kemudian diikuti kesatuan militer Jepang lainnya. termasuk penyerahan senjata di gedung Don Bosco, Jalan Tidar, gudang arsenal tentara Jepang terbesar di Asia Tenggara, di mana Jasin dibantu oleh Bung Tomo. Kota Surabaya sepenuhnya berada di bawah pengawasan kekuatan perjuangan PRI.

Dengan senjata itu, Moehammad Jasin memimpin langsung pasukan PRI untuk menghadapi pasukan Inggris dan Belanda, yang mendarat di Tanjung Perak Surabaya, 25 Oktober 1945. PRI terlibat dalam Insiden Bendera di Hotel Yamato tanggal 19 September 1945 dan pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Pasukan PRI menunjukkan kepemimpinan dan kepeloporannya, yang pantang mundur. Jasin mendorong pasukannya agar melancarkan serangan dan melindungi pasukan organisasi perjuangan lain yang bergerak mundur ke pinggiran kota. Dia menggunakan strategi perang gerilya.

“Pembela Tanah Air (PETA) yang diharapkan memberi dukungan pada perjuangan rakyat telah dilucuti senjatanya oleh tentara Jepang. Untung ketika itu M. Jasin tampil memimpin Pasukan Polisi Istimewa yang berbobot tempur militer untuk mendukung dan mempelopori perjuangan di Surabaya,” ujar Bung Tomo, pemimpin Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) yang juga salah satu pejuang terkemuka dalam peristiwa 10 November 1945 di Surabaya.

Hingga saat ini, hari lahir kepolisian diperingati setiap tanggal 1 Juli –dikenal juga sebagai Hari Bhayangkara. Padahal peristiwa sejarah yang menandainya hanyalah pemindahan korps kepolisian yang semula, sejak 1 Oktober 1945, bernaung di bawah Departemen Dalam Negeri menjadi langsung di bawah Perdana Menteri, melalui Peraturan Pemerintah Nomor 11/SD tahun 1946.

Pada 14 November 1946, Perdana Menteri Sutan Sjahrir mengganti Polisi Istimewa menjadi Mobile Brigade (Mobrig) –kemudian disesuaikan namanya dengan tata bahasa Indonesia menjadi Brigade Mobil (Brimob), pada 1961. Tanggal itu ditetapkan sebagai hari jadi Korps Baret Biru, nama lain Brimob. Moehammad Jasin, kelahiran Bau-bau, Buton, Sulawesi Selatan tanggal 9 Juni 1920, berperan dalam pembentukannya, tugas yang diberikan Kapolri Jenderal Raden Said Soekanto Tjokrodimodjo. Saat itu dia menjabat Kepala Kepolisian di Karesidenan Malang. Tak salah jika Moehammad Jasin diangkat sebagai Bapak Brimob Kepolisian RI. Kesatuan ini sejak awal terlibat dalam menghadapi berbagai gejolak di tanah air.

Buku ini merupakan memoar Moehammad Jasin, dengan editor cucunya sendiri, dengan niat meluruskan kembali sejarah kepolisian, khususnya menyangkut hari lahirnya. Peristiwa Proklamasi Polisi dan aksi-aksi heroik Moehammad Jasin –yang menurut sejarawan Asvi Warman Adam layak diusulkan jadi pahlawan nasional– terkesan tenggelam. Patut dipertimbangkan Proklamasi Polisi 21 Agustus sebagai hari lahir polisi.

Memoar ini juga memuat perjalanan karier militer dan politik Jasin, salah satu tokoh nasional yang melintasi beberapa generasi, juga sikap keteladanannya. Dia sosok yang memiliki sikap; keberanian dalam mengambil keputusan, keteladanan dalam menjalankan tugas, kesederhanaan dalam hidup, berjiwa besar, serta tabah dalam menghadapi cobaan sebagai seorang yang teralienasi dalam pemerintahan orde lama dan orde baru.

66 tahun yang lalu, tepatnya 14 April 1949 sekitar pukul 20.00 WIB. Hari itu, suasana di sejumlah wilayah Kabupaten Nganjuk sangat mencekam, karena Belanda dalam agresi militer keduanya berhasil menduduki kota Nganjuk. Situasi ini memaksa Iptu A. Wiratno Puspoatmojo, saat menjabat Kepala Polisi Kabupaten Nganjuk (sebutan sekarang kapolres) untuk mengambil tindakan cepat. Kapolres Wiratno memerintahkan anggotanya untuk melaksanakan patroli dan penyisiran ke daerah pinggiran untuk mempertahankan wilayah serta melindungi masyarakat Nganjuk. Selain itu juga untuk mencegah agar pasukan/tentara Belanda yang berusaha memasuki wilayah Nganjuk lewat perbatasan tidak bertambah banyak.
Sedikitnya ada dua regu yang diperintah oleh Kepala Polisi Kabupaten Nganjuk untuk patroli. Satu regu bergerak ke arah sektor selatan, berkedudukan di Desa Nglaban Kecamatan Loceret, dipimpin langsung oleh Kepala Polisi Kabupaten Iptu. A. Wiratno Puspoatmojo. Satunya lagi, di sektor utara dipimpin Pembantu Inspektur Polisi II Pagoe Koesnan. Rombongan patroli sektor utara dipimpin Agen Polisi I Soekardi, beranggotakan 17 polisi istimewa. Rombongan sektor utara bermarkas di Dukuh Baleturi, Desa Ngadiboyo, di sebuah Loji (sebutan bangunan Belanda ), yakni perumahan milik Perhutani Nganjuk.
Patroli dilaksanakan dengan jalan kaki, mengarah ke Dukuh Alas Jalin, Desa Ngadiboyo. Lantaran waktu itu, minim sarana untuk mendukung tugas Patroli. Mungkin keuntungan Patroli jalan kaki waktu itu adalah lebih bisa menyisir wilayah-wilayah lebih ke dalam dan terpisah, sehingga gerakan mereka tidak mudah diketahui Belanda. Selain itu, regu patroli pejuang polri lebih menguasai medan dibandingkan dengan tentara Belanda sehingga menguntungkan pejuang bila terjadi pertempuran. Mereka menyusuri pematang sawah, hutan, serta pemukiman penduduk. Lokasi rumah penduduk satu dengan lainnya masih berjauhan, membuat para polisi istimewa lebih waspada, sigap dan siaga dalam melaksanakan tugas patroli.
Sekitar tengah malam, patroli hingga sampai Dusun Alas Jalin, perbatasan Nganjuk – Madiun. Para patroli istimewa bertemu tentara Belanda yang bermarkas di wilayah Saradan, Kabupaten Madiun. Akhirnya terjadi kontak senjata antara kedua belah pihak. Sebenarnya pihak pejuang menyadari kekuatan kedua belah pihak tidak berimbang. Di pihak musuh (Belanda) dilengkapi senjata lebih modern dibanding senjata yang dimiliki para pejuang, jenis US Karabijn 95. Tak heran, para pejuang berhasil dipukul mundur dan patroli dihentikan. Para pejuang kembali ke markas semula di Loji, Dusun Turi, Desa Ngadiboyo, sekitar pukul 03.20 WIB. Mereka beristirahat hingga tertidur karena kelelahan setelah melakukan ptroli.
Tidak menyangka, ternyata pelarian para pejuan diikuti terus oleh tentara Belanda. Hingga sampai ditemukan markas para pejuang di Dusun Turi, Desa Ngadiboyo. Para pejuang yang sudah terlelap tidur tidak mengira sama sekali, bahaya telah mengancam. Tiba-tiba tentara Belanda menyerang markas dari arah selatan Loji. Mengetahui serangan berasal dari tentara Belanda, para pejuang lebih memilih bertahan dalam kegelapan Loji, tanpa sorot lampu. Pagi yang gelap gulita itu, memaksa tentara Belanda mendobrak pintu Loji dan memaksa masuk, mencari persembunyian para polisi. Dengan membawa lampu “belor”, mengantarkan cahaya lampu itu ke persembunyian para pejuang. Dengan nada keras, tentara Belanda memaksa para pejuang untuk keluar dari persembunyiannya dan berkumpul di halaman. Namun tak satupun para pejuang menuruti perintah tentara Belanda.
Tentara Benlanda percaya bahwa para pejuang tidak lagi memiliki kemampuan untuk menyerang balik, lantaran persenjataan dan amunisi yang dimiliki sudah menipis saat serangan di perbatasan Nganjuk – Madiun. Perintah untuk keluar tidak dituruti oleh para pejuang, hingga terpaksa tentara Belanda memaksanya keluar.
Dua orang tentara Belanda terus mendobrak masuk dan mengarahkan lampu “belor” ke seluruh ruangan. Seorang membawa senjata lengkap sambil menenteng lampu “belor, satunya lagi mengawal temannya dengan terus berteriak, “keluar…keluar…”. Sepasukan  lainnya berjaga-jaga di luar Loji.
Saking jengkelnya, akhirnya tentara Belanda berhasil meyeret para pejuang ke luar ruangan untuk berkumpul di halaman. Mereka berdiri berjajar sambil mengangkat tangan. Aksi tutup mulut dari pihak para pejuang terus terjadi hingga menyulut kegeraman pihak tentara Belanda. Lebih-lebih, saat ditanya, apakah di dalam Loji telah tersimpan senjata, tidak mendapat jawaban. Tiba-tiba, Belanda memberondongkan amunisinya ke tubuh para pejuang. Karuang saja, mereka menjadi kocar-kacir, dan bergelimpangan bersimbah darah segar. Sebanyak 12 orang meninggal di tempat, tiga orang luka berat, dan dua orang berhasil melarikan diri. Selesai melakukan penyerangan, Tentara Belanda kembali ke markasnya, di Saradan.
Tiga korban luka berat, yakni Lasimin, Sukidjan alias Oeripno, dan Suparlan. Sedangkan dua pejuang yang berhasil lolos, yakni Agen Polisi II Ramelan dan Agen Polisi II Suripto. Ramelan kabur dari kepungan tentara Belanda dengan membobol pintu belakang Loji. Mereka bersembunyi dalam parit belakang Loji, lalu berlari dengan membawa senjata rekan – rekannya yang telah gugur ditembak tentara Belanda. Ramelan berlari menuju Pos Wedegan, Kecamatan Rejoso untuk minta bantuan Pembantu Inspektur Polisi I Pagoe Koesnan.
Bersamaan suara keras tembakan dari arah Desa Ngadiboyo, di tempat lain, Kesatuan Batalyon Guritno langsung bergerak mencari sumber ledakan. Dalam perjalanan sekitar 8 kilometer, salah satu anggota batalyon Guritno, Satimin menghampiri warga masyarakat sedang membawa tiga korban luka berat menuju Pos Kesehatan Tentara di Desa Ngujung, Kecamatan Gondang. Saat ditanya, salah satu korban menjawab, “Saya korban pertempuran Turi.”
Menerima laporan, Pagoe Koesnan langsung langsung bergerak menuju ke Loji Dusun Baleturi Desa Ngadiboyo bersama sejumlah warga Rejoso. Mereka langsung menolong korban yang masih hidup dan mengevakuasi jenazah para pejuang yang gugur. Evakuasi berlangsung selama sekitar dua jam tersebut, dipimpin Kepala Polisi Kabupaten Iptu. Purn. Wiratno Puspoatmojo. Korban hidup dilarikan ke Pos Kesehatan Tentara di desa Ngujung – Gondang. Sedangkan, pejuang yang gugur, jenazahnya dimakamkan di Desa Balonggebang Kecamatan Gondang.
Pertempuran para pejuang polisi istimewa melawan tentara Belanda, 15 April 1949 tersebut dikenang sebagai “Tragedi Ngadiboyo”. Sedikitnya 12 pejuang polisi meninggal, 3 luka berat, dan dua selamat, di lokasi (Loji milik Perhutani) Dusun Baleturi, Desa Ngadiboyo, Kecamatan Rejoso. Untuk mengenang jasa perjuangan para polisi istimewa yang gugur mempertahankan kemerdekaan RI, 15 di lokasi tersebut dibangun sebuah monumen “Tragedi Ngadiboyo”.
Dalam pertempuran Ngadiboyo, 12 pejuang Polri gugur, yaitu; (1) Agen Pol Kelas II Bagoes, (2) Agen Pol Kelas II Diran / Sogol, (3) Agen Pol Kelas II Laiman, (4) Agen Pol Kelas II Soekatmo, (5) Agen Pol Kelas II Moestadjab, (6) Agen Pol Kelas II Soemargo, (7) Agen Pol Kelas II Sardjono, Agen Pol Kelas II Saimun, (8) Agen Pol Kelas II Samad, (9) Agen Pol Kelas II Masidi, (10), (11) Agen Pol Kelas II Simin, dan(12) Agen Pol Kelas II Musadi.
Korban luka berat;  (1) Agen Polisi K II Sukidjan / Oeripno, (2) Agen Polisi K II Lasimin, (3) Agen Polisi K II Suparlan.
Korban yang masih hidup dan selamat; Agen Polisi K II  Ramelan dan Agen Polisi K II  Suripto.
Tiap tahun, bertepatan dengan HUT BHAYANGKARA, 1 Juli selalu dikenang kembali jasa-jasa mereka sebagai para pejuang bangsa dalam rangka mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bertepatan 1 Juli pula, Polres Nganjuk beserta jajaran selalu melaksanakan upacara  ziarah nasional di monumen “Tragedi Ngadiboyo”. (*)
Saksi Sejarah:
1.    Letkol Pol (Purn) Pagoe Koesnan, lahir di Ponorogo, 25 Desember 1919. Mempunyai seorang Istri, Siti Soeketji. Alamat terakhir di Jl. Cendana 53, Desa Singonegaran Kecamatan Pesantren Kodya Kediri. Dinas terakhir di Kores 1022 Malang , pangkat terkahir Letkol.     Pol. Purn. Nrp. 19120018. Pendidikan Umum HIS dan Sekolah Tekhnik, sedangkan pendidikan Militer / Polisi adalah Reqrut Junsa Kotoka Ins.Pol Ulangan di Sukabumi tahun 1943. Tanda jasa yang dimiliki adalah Satya Lencana Penegak.
Mendaftarkan sebagai anggota Polisi, 1 Juli 1943, dan pendidikan di Sekolah Polisi Sukabumi. Kemudian lulus tahun tanggal 1 Januari 1944 dengan pangkat Agen Polisi K III dan ditempatkan di Kantor Polisi Kota Kediri.
Pada tanggal 1Juni 1945, Pagoe Koesnan dipindahkan di Sekolah Polisi Sukabumi di bagian Kotoka. Kemudian dikembalikan dinas lagi di daerah yaitu menjadi Komandan Polisi di Kantor Polisi Nganjuk pada tanggal 1 Nopember 1947. Tanggal 1 Januari 1947 diangkat menjadi PIP K II. Mendapat kedudukan sebagai Negeri Tetap pada tanggal  1 Januari 1950 dengan Skep No. Pol. : 2/99/32, tanggal 17 Juli 1952. Pada tahun 1952, mendapat kenaikan pangkat menjadi Agen Polisi K I pada tanggal 1 Agustus 1952, kemudian pada 1 Desember 1952 dipindahkan tugasnya ke Kantor Polisi Kota Kediri.
Pagoe Koesnan pernah juga menjabat sebagai Kepala Polisi Seksi II Kota Kediri selama 8 bulan, terhitung mulai tanggal 31 Januari 1954 sampai dengan 28 September 1954. Naik pangkat ( diherschik ) menjadi Inspektur Polisi K II pada tanggal 1 April 1954.
September 1954, beliau dipromosikan dan menduduki jabatan sebagai Kepala Kepolisian Wilayah Wlingi-Blitar. Mengikuti Pendidikan tambahan Inspektur Polisi ke VI  pada tahun 1959. Pada tanggal 1     Oktober 1959, dipindahkan pada Kantor Polisi Resort Kediri di Pare.
Berpangkat Pembantu Inspektur Polisi I ketika terjadinya Tragedi Ngadiboyo. Menjabat Komandan sektor utara bermarkas di Dusun Wedegan, Desa Sambikerep Kecamatan Rejoso. Salah satu Pemrakarsa pemugaran / pemasangan Prasasti Monumen Tragedi Ngadiboyo, Pagoe Koesnan mengusulkan pada waktu pemugaran, tugu tidak perlu diubah. Hanya kalimatnya saja yang diganti, yaitu : “Di sini telah gugur Polisi Kabupaten Nganjuk dalam pertempuran melawan Belanda pada bulan April 1949”
Di bawah kalimat di atas, dituliskan nama – nama pejuang yang gugur dalam pertempuran Ngadiboyo. Landasan tugu / monumen cukup diubah landasannya saja. Jumlah trap diganti dari 4 menjadi 3 yang melambangkan TRI BRATA. Lantai Monumen dibuat segi lima melambangkan Pancasila. Hal itu menurut beliau Koenan berarti gugurnya para pejuang adalah menepati Tri Brata dalam mempertahankan Pancasila.
2.    Peltu Pol (Purn) Ramelan ( almarhum ).
Masih berpangkat Agen Polisi II ketika terjadinya Tragedi Ngadiboyo tahun 1949. Tergabung dalam Regu Patroli Sektor Utara yang dipimpin Agen Polisi I Soekardi. Merupakan salah satu korban yang selamat dari Aksi penyerangan Belanda. Dan satu – satunya saksi sejarah yang terlibat langsung dalam Tragedi Ngadiboyo sehingga merupakan sumber sejarah yang bisa dipertanggungjawabkan kebenaran kisah ceritanya. Pensiun dengan pangkat Peltu.
Ramelan bersama 10 rekan seperjuangannya (Djasman, Sukardi, Harjani, M.Najib, Suripto, Munadi, Maidi, Senen, Dani dan Sabi) pernah bergabung dengan pasukan dari BODM Daerah Bagor – Nganjuk, untuk mengadakan penghadangan Tentara Belanda. Meledakkan jalan dan jembatan – jembatan yang sering dilewati rombonga tentara Belanda. Kemudian mereka bertemu dan bergabung dengan BARA  ( Barisan Rahasia ) untuk bergerilya di wilayah Kota Nganjuk dan sekitarnya. Kemudian ke wilayah Ngluyu selama 1 minggu dan disana diserang pesawat milik Belanda. Gerilyawan bergerak keselatan menuju Kedungombo melewati wilayah Kecamatan Gondang, Sukomoro dan Pace (Kecubung). Selama perjalanan, mereka membongkar jembatan – jembatan yang telah diperbaiki Belanda untuk mobilitas dan saling berhubungan dengan markas Belanda di daerah lain.
Selama 3 hari di Kedungombo, mereka diserang lagi oleh Tentara Belanda yang bermarkas di Mrican – Kediri. Mereka mundur ke wilayah Joho – Pace selama 3 hari. Kembali Belanda menyerang, mereka pindah ke daerah Ngetos selama  7 hari. Gerilya diteruskan ke wilayah Sawahan. Di sana mereka menghadang iring – iringan tentara Belanda dan terjadi baku tembak. Gerilyawan pejuang berhasil merebut senjata otomatis (Bren) milik Belanda. Gerilya dilanjutkan di wilayah Berbek dan terakhir di Bagor sampai kembalinya kedaulatan ke Pemerintah RI, mereka kembali ke Induk Kepolisian masing-masing.
3.    Lettu Pol (Purn) Satimin
Satimin adalah orang asli Nganjuk, sekarang bertempat tinggal di Desa Ngadiboyo Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk,  dekat Monumen Ngadiboyo.  Saat tragedi Ngadiboyo, Satimin seorang anggota prajurit Tentara Batalyon Guritno. Hanya, sekitar bulan Maret 1950, Satimin mengundurkan diri sebagai tentara dengan alasan untuk bertani.
Tiga tahun mengundurkan diri sebagai tentara, Satimin mendaftarkan diri untuk menjadi anggota polisi pada Bulan Juli tahun 1953 di Kantor Polisi Kabupaten Nganjuk, dan diterima dengan tempat pendidikan di PPUK Porong  (Pusat Pendidikan Ulangan Kepolisian di Porong) yang waktu itu masih merupakan Pabrik Gula peninggalan Belanda. Lulus Pendidikan tahun 1954 dengan pangkat Agen Polisi K II.
Pada tahun itu juga ada pembentukan pasukan khusus Polri yaitu Brimob. Satimin kemudian ditarik untuk menjadi anggota Brimob dan masuk pendidikan tambahan lagi selama 3 bulan. Kemudian ditempatkan di Kompi 5480 Brimob Porong. Pada Tahun 1957, Kompi 5480 Brimob Porong dikenal dengan sebutan Kompi Nakal. Karena memang ketika itu seluruh anggotanya selalu bergerak bersama – sama di manapun mereka berada. Kemudian Kompi 5480 dilebur, dipecah. Anggotanya tersebar di seluruh Indonesia. Sebuah bentuk sanksi dari sebuah kesalahan yang dilakukan bersama-sama dengan teman – teman satu Kompi. Beliau ditempatkan dinas di Kendari, Sulawesi Tenggara. Tepatnya di Polres Kendari sebagai Polisi Umum.
Setelah berdinas selama 7 tahun di Polres Kendari, tahun 1964 orang tua Satimin meninggal dunia. Kemudian dia mengajukan pindah dinas untuk pulang ke Nganjuk pada tahun 1965, di mana waktu itu situasi Indonesia terjadi Pemberontakan G30S/PKI. Satimin ditempatkan di Polsek Sawahan ( berpangkat Sersan ).
Sehabis tertumpasnya G30S/PKI, Satimin ditarik kembali ke Resort Nganjuk. Karir kepangkatannya naik, berjalan mulus tanpa hambatan dan menjabat sebagai Karo Personil Resort Nganjuk.
Pada tahun 1975, Satimin masuk mendataftarkan diri untuk mengikuti seleksi Sekolah Calon Perwira ( Capa ). Beliau diterima dan lulus dengan pangkat Letda Pol. Dia kembali bertugas di jajaran Resort Nganjuk tahun 1976 dan menjabat sebagai Kapolsek Ngluyu. Kemudian pada tahun itu juga, beliau mendapat tugas ke Timor Timur ( Ops Seroja ) selama 11 bulan dan di sana menjabat sebagai Kapolsek dengan anggota Brimbo sebanyak 1 Peleton dari Kompi 18 Pekalongan. Sekembali dari tugas di Timtim, kembali ke Resort Nganjuk dan menjabat sebagai Kapolsek Patianrowo, Kapolsek Wilangan dan terakhir Kapolsek Lengkong. Mengajukan MPP dan Pensiun pada usia 55 tahun.(*)

Dikutip dari berbagai sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here