Terorisme berhubungan erat dengan media. Keduanya saling membutuhkan. Pelaku teror membutuhkan media untuk menyampaikan pesan ancamannya ke publik. Sementara media butuh berita ‘besar’ untuk menaikan oplag, rating atau clickrate.

Berita terorisme sangat membantu menaikan itu semua. Terlebih lagi karena tidak semua kelompok teror memiliki media. Sehingga pesan politis dan ancaman yang mereka kampanyekan selalu membutuhkan liputan penuh media.

Dalam era teknologi informasi seperti sekarang ini media dengan reach atau jangkauan yang luas sebenarnya bisa dicapai dengan bantuan internet. Aplikasi-aplikasi jejaring sosial sekarang begitu beragam. Pesan yang disampakan dapat berupa konten tulisan, suara, gambar ataupun video. Inilah yang dimanfaatkan secara luas oleh kelompok radikal.

Hans Spier mengatakan bahwa propaganda adalah aktivitas komunikasi dari pemerintah yang ditujukan kepada warga negaranya, warga negara lain di negara itu dan juga negara asing secara umum. Propaganda harus diinisiasi dari pemerintah.

Para ahli pun setuju bahwa propaganda memiliki tiga objektif: memobilisasi khalayak sasaran ke arah tujuan yang dinginkan, mencapai suatu kondisi pendadakan, atau melindungi legitimasi. Lazimnya propaganda dilakukan oleh negara ditujukan kepada rakyatnya ataupun negara lain namun tidak menutup kemungkinan propaganda dilakukan oleh aktor non negara.

Terdapat tiga jenis propaganda; propaganda putih, abu-abu dan hitam. Propaganda putih seperti yang biasa dilakukan media yang berpihak pada suatu kepentingan politik atau kebijakan tertentu. Kegiatannya tidak rahasia alias terbuka. Meskipun terbuka namun sponsor kegiatan propaganda itu seringkali tidak diketahui.

Kemudian propaganda abu-abu adalah kegiatan yang dilakukan tertutup. Contohnya adalah dengan memanfaatkan wartawan untuk menulis tentang pesan tertentu yang ditujukan untuk publik agar mereka tergerak dan memercayai dan bergerak melakukan apa yang diinginkan.

Yang terakhir adalah propaganda hitam, adalah kegiatan penyebaran informasi tertutup yang menyesatkan. Tujuannya adalah untuk memberikan informasi yang menyesatkan pada audiens yang disasar sehingga audiens akan percaya dan meruntuhkan kredibilitas lawan. Misalnya yang dilakukan oleh Soviet pada tahun 80-an. Mereka menyebarkan isu bahwa Amerika Serikat lah yang menyebarkan AIDS ke seluruh dunia dari proses rekayasa genetika di Maryland.

Cara-cara propaganda seperti ini berkaitan erat dengan penggunaan media. Karena media merupakan sarana yang paling efektif untuk menyampaikan pesan kepada khalayak sasaran. Lewat media pula pesan dapat dikemas sedemikian rupa sehingga menyentuh emosi dari khalayak.

Tidak hanya negara atau pemerintah yang dapat melakukan propaganda. Aktor non negara pun dapat melakukannya termasuk kelompok radikal dan bahkan para teroris. Tidak semua kelompok radikal memiliki media arusutama sehingga mereka menggunakan internet dan media sosial yang dapat digunakan siapa pun, di mana pun tanpa harus takut terkena sensor.

Ada tujuh fungsi situs radikal yang digunakan oleh kelompok teror dan simpatisannya di Indonesia (Sumbung 2015): propaganda, doktrinasi & radikalisasi, pelatihan cyber paramiliter, perekrutan, komunikasi, publisitas, dan pendanaan.

Sekarang, akan kita lihat kegiatan teroris atau kelompok radikal yang menggunakan ketiga jenis propaganda tersebut di atas. Dalam propaganda putih sering dilakukan oleh kelompok radikal agama. Biasanya mereka membuat situs di internet dengan berkedok sebagai situs berita atau portal tentang agama.

Di dalam tulisan-tulisan di situs tersebut berisi substansi yang cenderung menjurus kepada suatu narasi atau pesan tertentu. Pesan atau narasinya dapat berupa ajakan membenci agama atau kelompok lain dan juga mendirikan negara berdasarkan agama. Biasanya ditulis dengan gaya seperti tulisan opini.

Dari situs, tulisan ini perlahan akan disebarkan melalui jejaring sosial lainnya via simpatisan atau sering juga disebut KOL (key opinion leaders) sehingga menyebar ke khalayak umum. Tulisan di situs ini biasanya akan diolah lagi sesuai dengan gaya bahasa si KOL.

Aktivitas ini sudah masuk ke dalam propaganda abu-abu karena sudah menggunakan pihak ketiga untuk melakukan kampanye. Khalayak sasaran tidak akan tahu dari mana info atau tulisan yang diolah oleh KOL ini atau siapa sponsornya di balik layar. Propaganda seperti ini yang banyak dilakukan oleh kelompok-kelompok radikal agama.

Sementara propaganda hitam banyak terlihat di dunia maya melalui tulisan-tulisan yang menyesatkan dengan memelintir ayat-ayat suci. Mereka hanya mengambil secuil ayat yang kemudian dijadikan pembenaran dalam pesan-pesan dan aktivitasnya.

Reach atau jangkauan jejaring sosial tidak kalah dengan media tradisional. Jejaring sosial seperti blog, twitter dan facebook bahkan bisa diatur siapa saja yang dapat melihat konten. Khalayak yang menjadi sasaran dapat disasar berdasarkan demografi seperti umur, daerah, negara dan juga waktu tayang.

Dengan kelebihan yang dimiliki jejaring sosial ini maka siapa pun penggunanya memiliki keuntungan dibanding jika menggunakan media tradisional. Membuat ancaman radikalisasi di dunia maya menjadi lebih berbahaya dalam menghasut melalui propaganda.

Lalu bagaimana menghadapi propaganda radikalisasi di dunia maya? Seperti contoh di atas, kelompok teror pun sudah mengerti tentang cara-cara propaganda, baik yang terbuka maupun tertutup. Yang paling sering dilakukan oleh pemerintah dalam menghadapi propaganda radikalisasi di internet adalah dengan menutup situs atau memblokir akses ke jejaring sosial. Cara tersebut tentu tidak salah namun harus diikuti oleh cara lain.

Usulan cara lain adalah dengan melakukan kontrapropaganda di media sosial. Kontrapropaganda perlu dilakukan untuk membalikkan pesan yang disampaikan oleh propaganda radikal. Kontra propaganda ini perlu dipikirkan secara matang.

Perlu dilakukan perencanaan strategi propaganda yang efektif dan tepat sasaran. Dengan menentukan siapa sasarannya, saluran propaganda media sosial apa saja yang dipakai, bagaimana bunyi pesan hingga kapan pesan itu harus ditayangkan adalah bagian dari perencanaan tersebut.

Kontrapropaganda tidak bisa dilakukan setangah hati namun harus dilakukan secara berkelanjutan. Karena proses komunikasi yang efektif perlu waktu dan tidak mungkin dicapai secara sekejap. Penggunaan KOL dan pilihan serta pengolahan pesan yang tepat menjadi sangat penting.

Pemblokiran akses situs dan jejaring sosial para kelompok teror memang perlu untuk terus dilakukan, namun perlu ada kampanye bersifat penggalangan dan kontrapropaganda terutama di jejaring media sosial. Karena di situ lah sesungguhnya pertarungan yang bertujuan untuk merebut khalayak dan diseminasi narasi.

 

Artikel ini dimuat di Kompas edisi 20 Januari 2016

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here