Ada banyak kondisi yang membuyarkan konsentrasi. Penghancuran lingkungan hidup, bunuh-bunuhan antarmanusia, semua tampak nyata di depan mata. Tindakan-tindakan itu, dalam taraf paling tinggi, membingungkan akal sehat.

Meski berkategori klasik, sebagai kondisi asali manusia menurut Thomas Hobbes, tapi tindakan-tindakan tersebut justru kontraproduktif. Nalar dan hati nurani sama sekali tak bisa menerima. Jikapun ada yang mentolerirnya, bisa dipastikan, hanyalah orang-orang yang tergolong “sakit jiwa”.

Demikian Nanang Sunandar, Direktur Eksekutif Institute Demokrasi dan Kesejahteraan Sosial (Indeks), menggambarkannya sebagai kondisi ketika ekstremisme paling brutal itu sukses bekerja. Yang disampaikan kiranya persis dengan apa yang juga pernah diilustrasikan Muhammad sebagai potongan-potongan malam yang gelap gulita (HR Abu Bakrah al-Anshari).

Ketika pagi menjelang siang, mereka (ekstremis brutal) tampil dengan wajah santun: beriman, bermoral. Di saat senja atau malam sudah tiba, penampakannya justru berbeda drastis: menjadi kafir, bertindak brutal.

Ya, paradoks! Terlebih karena tindakan-tindakan brutal kelompok ektremis itu berlindung di balik jubah “kesucian”. Klaim-klaim ilahiah sering mereka comot sebagai dalih hanya untuk melegitimasi tindakan brutal. Bahwa kelompoknyalah yang paling benar, akan masuk surga, sementara yang lain melulu dianggap salah, pasti masuk neraka.

Jelas, efek negatif dari klaim kebenaran sepihak seperti itu luar biasa. Seseorang yang dianggap “menyimpang”, tidak mengikut pada aturan main mereka, serta-merta akan dinilai kafir. Akibatnya? Darah yang menyimpang halal ditumpahkan. Yang bersangkutan layak dibunuh.

Pentingnya Kontranarasi

Mengingat efeknya yang begitu kontraproduktif, maka kiranya tak ada alasan lagi untuk pembiaran. Tiap orang, di luar yang “sakit jiwa” tentu saja, mesti ikut meredam ekstremisme brutal para teroris ini. Salah satu upaya yang bisa dilakukan dalam rangka meredam itu adalah dengan kontranarasi atau countering violent extremism (CVE).

“Kontranarasi ekstremisme brutal (CVE) adalah pendekatan untuk menangkal narasi kekerasan yang disebarluaskan kelompok-kelompok ekstremis (teroris),” terang Nanang dalam sesi kedua Workshop dan Pelatihan Menulis Ektremisme dan Psikologi Kekerasan, Yogyakarta, Jumat (24/11/2017).

Melalui agenda yang diselenggarakan Qureta kerja sama Indeks dan PPIM UIN Jakarta ini, pekerja sosial yang juga pernah bergelut di Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF) itu memetakan maksud dan tujuan kontranarasi.

“Kontranarasi harus mampu melakukan pemisahan: menerapkan perubahan perilaku yang membuat keterlibatan seseorang dalam aktivitas ekstremis brutal jadi berkurang. Juga harus mengupayakan pengalihan: sebuah langkah mencegah mereka atau individu-individu yang rentan jadi pengikutnya.”

Selain itu, kontranarasi juga diandaikan harus mampu membatasi dampak. Ancaman ekstremisme brutal harus diisolasi, meminimalisasi dampaknya terhadap individu. Pun harus mengupayakan pengurangan daya tarik individu terhadap kelompok tersebut serta mencegah berkembangnya narasi teroris secara berkelanjutan.

Seturut pada misi Indeks, tentu upaya ini tak lain untuk mendorong terwujudnya kesejahteraan masyarakat yang demokratis, dalam arti memerdekakan masyarakat dari kondisi-kondisi kekerasan. Misi inilah hendak diwujudkan Nanang bersama rekan-rekannya di Indeks dengan berpijak pada nilai-nilai kebebasan, kesetaraan, solidaritas, baik dalam kerangka politik, ekonomi, juga budaya.

“Gak tahu seberapa efektif. Ini (CVE) sebetulnya relatif baru karena pendekatan kontraterorisme sebelumnya banyak dikritik. Tapi, upaya ini bisa dibilang cukup menjanjikan sebagai pendekatan antisipasi.”

Langkah-Langkah Kontranarasi

Sebagai sebuah pendekatan, tentu ada seperangkat langkah yang mesti dilalui. Sekali lagi, apa yang dijabarkan Nanang ini adalah upaya meredam aksi ekstremisme brutal, terutama untuk konteks Asia Tenggara, khususnya Indonesia.

“Pertama-tama, dalam CVE, kita harus menganalisis faktor pendukung dan penariknya yang relevan. Lalu, mengindentifikasi target audiens dan narasi ekstremisme yang hendak dilawan.”

Menetapkan standar dan tujuan kontranasi juga penting. Upaya ini juga harus menentukan pembawa pesan dan media yang efektif, sekaligus mengembangkan konten dan logika pesan.

“Perlu juga merumuskan strategi diseminasi serta evaluasi dan analisis dampak dari kontranarasi. Bila perlu, merevisinya secara berkala demi efektivitas.”

Adapun faktor pendorong yang dimaksud Nanang, di antaranya islamophobia dan ujaran kebencian (hate speech).

“Kurangnya demokratisasi, pendidikan, dan pemikiran kritis, merebaknya marginalisasi dan intoleransi, terutama yang berbau etnis dan religius, serta minimnya kondisi ekonomi alias kemiskinan, juga menjadi faktor utama yang mendorong aksi ekstremisme brutal itu lahir ke permukaan.”

Sementara, untuk faktor penariknya, yakni menguatnya identitas politik, budaya, dan agama. Ada juga perasaan menjadi korban, pengaruh media, juga karena merebaknya pengkultusan mantan pejuang di daerah konflik, seperti dari Afghanistan dan Suriah. Juga karena semakin getolnya gagasan-gagasan berdalih mencapai “Islam yang murni”, termasuk anggapan adanya peluang transformasi dan perubahan bagi komunitas mereka.

“Faktor pendorong ini merujuk pada keluhan sosio-ekonomi. Ini terkait dengan kekuatan dan tekanan eksternal terhadap seseorang. Sedangkan untuk faktor penariknya, merujuk pada berbagai gejala psiko-sosial. Itu bisa menarik seseorang ke arah ekstremisme brutal.”

Identifikasi target audiens sendiri, lanjut Nanang, juga penting karena akan berkontribusi dalam menentukan tujuan dari pesan. Langkah ini akan mengevaluasi apakah pesan tersebut benar-benar sukses atau tidak didiseminasikan.

“Target audiens tertentu dapat berperan sebagai pemberi pengaruh utama (key influencer). Orang-orang inilah yang akan menggalakkan dan menguatkan pesan guna menjangkau individu-individu yang mungkin paling rentan terkena pengaruh rekrutmen dan radikalisasi ke arah ekstremisme brutal.”

Idealnya, analisis awal target audiens ini bersifat lokal. Ia mencakup usia, gender, etnisitas, kepentingan, hingga jenis-jenis interaksi sosial di kalangan mereka. Target ini juga dapat dianalisis guna menentukan jenis-jenis pesan serta bahasa yang menjadi bentuk komunikasi utama mereka dalam komunitasnya.

“Kesemuanya menjangkau populasi umum, pemberi pengaruh utama, simpatisan gagasan, dan pelaku ekstremisme brutal.”

Identifikasi Narasi

Yang paling efektif dari kontranasi dalam rangka meredam ekstremisme brutal adalah dengan merancangnya melalui pemahaman atau belajar dari narasi yang digunakan esktremis brutal itu sendiri.

“Dalam hal ini, ada tiga upaya yang penting diketahui, yakni jenis-jenis narasi yang mereka gunakan, menyorot alur logika atau struktur narasinya, dan mengidentifikasi kelemahan potensial dalam narasi mereka.”

Untuk jenis narasi ekstremisme brutal, ada empat yang bagi Nanang patut dipahami, di antaranya narasi religius atau ideologis, narasi politik, narasi sosial heroik, dan narasi ekonomi.

“Dalam konteks Asia Tenggara, termasuk di Indonesia, narasi religius atau ideologis adalah jenis yang paling banyak ditemukan. Mereka gunakan argumen-argumen moral sebagai pembenaran. Mereka ambil legitimasi ketuhanan sebagai sumber untuk memperkuat pengaruh pesan-pesan brutalnya, seperti penilaian bahwa Negara Barat adalah korup dan kafir, sekaligus menegaskan bahwa satu-satunya jalan yang benar adalah Islam.”

Narasi politik juga kerap ditemukan dalam konteks wilayah ini. Ekstremis brutal sering pula mengaitkan kontruksi politik sebuah negara dengan otoritas religius sebagai upaya mencapai legitimasi. Bahkan, JI atau ISIS, contoh organisasi brutal, terkadang mengiringinya dengan aspirasi penguasaan teritorial.

“Organisasi-organisasi teroris itu sering berargumen, Negara Islam adalah sunnatullah. Mereka klaim kebenaran ilahiah organisasinya melalui pendirian kekhalifaan dan implementasi syariat Islam.”

Tentu saja, narasi-narasi mereka utopis. Belum lagi soal narasi sosial heroik yang fokus pada kultus tindak kekerasan saja, termasuk terorisme. Pun demikian dengan narasi ekonomi, yang langsung ataupun tidak, mengatakan bahwa bergabungnya seseorang pada kelompok ekstremis brutal akan membantunya mencapai kemerdekaan ekonomi.

“Calon anggota terdorong untuk bergabung karena marginalisasi ekonomi dan diskriminasi terselubung. Uang dan akses yang mudah terhadap senjata—godaan uang dan kekuasaan yang berasal dari laras senjata api merupakan faktor pendorong.”

Identifikasi narasi yang lain adalah menyorotnya dari segi logika atau struktur narasi yang digunakan. Klaim ketidakadilan di dunia atau kesengsaraaan mendasar, dibumbuhi dengan alternatif solusinya, juga pewajiban bagi umat muslim untuk ikut bertindak brutal di mana kekerasan dijadikan sebagai satu-satunya opsi, adalah logika yang paling sering diserukan teroris dalam narasi mereka.

“Seseorang atau kelompok tertentu bisa dinilai sebagai teroris atau tidak jika keempat alur logika atau struktur itu terpenuhi. Dulu, kelompok al-Qaeda mempraktikkannya. Sekarang ISIS yang melanjutkan.”

Bagaimana dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)? Apakah kelompok yang punya gagasan ekstrem ini juga bisa dikategorikan sama dengan al-Qaeda atau ISIS?

“Belum bisa dikategorikan begitu. Batasannya pada ajakan atau tindakan. HTI belum sampai pada taraf ini. Meski juga menebar hate speech, tapi selama tidak disertai dengan ajakan untuk melakukan hate crime, itu masih bisa disebut sebagai upaya kritik, sehingga negara tak boleh membubarkan.”

Setelah mengidentifikasi jenis narasi dan logika atau strukturnya, maka langkah terakhir yang harus dilakukan dalam pengidentifikasian ini adalah mencari kelemahaman logikanya sendiri. Sebagaimana disebutkan di awal, penting mempelajari betul narasi mereka dan mencari kelemahannya untuk kemudian menjadikannya sebagai alat perlawanan.

“Apakah betul organisasi teroris menyediakan keamanan dan kenyamanan bagi mereka yang melakukan hijrah? Apakah utopia politik mereka tentang kekhalifaan atau negara Islam itu sah? Apakah argumen religius mereka kredibel? Semua harus dipastikan. Tidak boleh asal ikut-ikut.”

Lebih lanjut, para calon pengikut juga harus memastikan apakah benar tindakan ekstremisme brutal para teroris tidak mengorbankan umat muslim sendiri dalam agenda “perjuangan suci” mereka. Calon pengikut juga perlu menegaskan apakah kekerasan dan kebrutalan ekstrim yang teroris lakukan bisa diterima secara moral atau religius.

“Apakah mereka (teroris) itu benar-benar berintegritas, tidak hipokrit? Sayang, mereka yang ikut kebanyakan tidak mampu berpikir kritis. Karena memang, ada kondisi-kondisi yang mendorongnya, seperti perasaan menjadi korban, perasaan termarginalkan, di samping kurang berpendidikan.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here